Perisitiwa Isra Miraj
Ahlus Sunnah mengimani
bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah di-isra’-kan oleh Allah
dari Makkah ke Baitul Maqdis lalu di-mi’raj-kan (naik) ke langit dengan ruh dan
jasadnya dalam keadaan sadar [1] sampai ke langit yang ke tujuh, ke Sidratul
Muntaha. Kemudian (beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) memasuki Surga,
melihat Neraka, melihat para Malaikat, mendengar pembicaraan Allah, bertemu
dengan para Nabi, dan beliau mendapat perintah shalat yang lima waktu sehari
semalam. Dan beliau kembali ke Makkah pada malam itu juga.[2]
Dari Anas bin Malik
Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
bersabda: “(Jibril) telah datang kepadaku bersama Buraq, yaitu hewan putih yang
tinggi, lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari kuda, yang dapat
meletakkan kakinya (melangkah) sejauh pandangannya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda: “Maka aku menaikinya hingga sampailah aku di Baitul Maqdis,
lalu aku turun dan mengikatnya dengan tali yang biasa dipakai oleh para Nabi.”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Kemudian aku masuk ke masjid
al-Aqsha dan aku shalat dua raka’at di sana, lalu aku keluar. Kemudian Jibril
Alaihissallam membawakan kepadaku satu wadah khamr dan satu gelas susu, maka
aku memilih susu, lalu Jibril berkata kepadaku: ‘Engkau telah memilih fitrah
(kesucian).’”
Lanjut beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kemudian Buraq tersebut naik bersamaku ke
langit, maka Jibril meminta agar dibukakan pintu langit, lalu ia ditanya:
‘Siapa engkau?’ Jibril menjawab: ‘Jibril.’ Jibril ditanya lagi: ‘Siapakah yang
bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad.’ Jibril ditanya lagi: ‘Apakah dia telah
diutus?’ Ia menjawab: ‘Dia telah diutus.’ Kami pun dibukakan pintu lalu aku
bertemu (Nabi) Adam Alaihissallam. Beliau menyambutku dan mendo’akan kebaikan
untukku. Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit kedua, maka Jibril
Alaihissallam mohon dibukakan pintu, lalu ia ditanya: ‘Siapa engkau?’ Ia
menjawab: ‘Jibril.’ Ia ditanya lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab:
‘Muhammad.’ Ia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah diutus kepada-Nya?’ Jibril
menjawab: ‘Dia telah diutus.’” Kata Nabi: “Maka kami dibukakan pintu lalu aku
bertemu dengan dua orang sepupuku, yaitu ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria
Alaihimussallam, maka keduanya menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.”
(Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam melanjutkan): “Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke
langit ketiga, maka Jibril Alaihissallam minta dibukakan pintu, lalu ia
ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Jibril.’ Dia ditanya lagi: ‘Siapa yang
bersamamu?’” Dia menjawab: ‘Muhammad.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah
diutus kepada-Nya?’ Dia menjawab: ‘Dia telah diutus kepada-Nya.’” Kata Nabi:
“Maka kami dibukakan pintu, lalu aku bertemu Nabi Yusuf Alaihissallam yang
telah dianugerahi setengah dari ketampanan manusia sejagat.” Kata Nabi: “Maka
Yusuf menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku.”
(Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam melanjutkan): “Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke
langit yang keempat, maka Jibril Alaihissallam minta dibukakan pintu, lalu ia
ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Jibril.’ Dia ditanya lagi: ‘Siapa yang
bersamamu?’ Dia menjawab: ‘Muhammad.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah
diutus kepada-Nya?’ Dia menjawab: ‘Dia telah diutus kepada-Nya.’” Kata Nabi:
“Maka kami dibukakan pintu, lalu aku bertemu Idris Alaihissallam, ia
menyambutku dan mendo’akan kebaikan untukku. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
berfirman (untuknya): ‘Dan kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi.’”
(Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam melanjutkan): “Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke
langit yang kelima, maka Jibril Alaihissallam minta dibukakan pintu, lalu ia
ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Jibril.’ Dia ditanya lagi: ‘Siapa yang
bersamamu?’ Dia menjawab: ‘Muhammad.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah
diutus kepada-Nya?’ Dia menjawab: ‘Dia telah diutus kepada-Nya.’” Kata Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Maka kami dibukakan pintu, lalu aku bertemu
dengan Nabi Harun Alaihissallam, ia menyambutku dan mendo’akan kebaikan
untukku.”
(Nabi Shallallahu ‘alihi
wa sallam melanjutkan): “Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke langit
yang keenam, maka Jibril Alaihissallam mohon dibukakan pintu, lalu ia ditanya:
‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Jibril.’ Dia ditanya lagi: ‘Siapa yang
bersamamu?’ Dia menjawab: ‘Muhammad.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah
diutus kepada-Nya?’ Dia menjawab: ‘Dia telah diutus kepada-Nya.’” Kata Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Maka kami dibukakan pintu, lalu aku bertemu
dengan Musa Alaihissallam, lalu ia menyambutku dan mendo’akan kebaikan
untukku.”
(Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam melanjutkan): “Kemudian Buraq tersebut naik bersama kami ke
langit yang ketujuh, maka Jibril Alaihissallam minta dibukakan pintu, lalu ia
ditanya: ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Jibril.’ Dia ditanya lagi: ‘Siapa yang
bersamamu?’ Dia menjawab: ‘Muhammad.’ Dia ditanya lagi: ‘Apakah dia telah
diutus kepada-Nya?’ Dia menjawab: ‘Dia telah diutus kepada-Nya.’” Kata Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam: “Maka kami dibukakan pintu, lalu aku bertemu dengan Ibrahim
Alaihissallam, yang sedang menyandarkan punggungnya di Baitul Makmur, di mana
tempat itu setiap harinya dimasuki oleh 70.000 Malaikat dan mereka tidak
kembali lagi sesudahnya.”
(Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam melanjutkan): “Kemudian Buraq tersebut pergi bersamaku ke
Sidratul Muntaha yang (lebar) dedaunnya seperti telinga gajah dan (besar)
buah-buahnya seperti tempayan besar.” Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tatkala perintah Allah memenuhi Sidratul Muntaha, maka Sidratul Muntaha
berubah dan tidak ada seorang pun dari makhluk Allah yang bisa menjelaskan
sifat-sifat Sidratul Muntaha karena keindahannya. Maka, Allah Subhanahu wa
Ta’ala memberiku wahyu dan mewajibkan kepadaku shalat lima puluh kali dalam
sehari semalam.”
(Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam melanjutkan): “Kemudian aku turun dan bertemu Musa
Alaihissallam, lalu ia bertanya: ‘Apa yang diwajibkan Rabb-mu terhadap
ummatmu?’ Aku menjawab: ‘Shalat lima puluh kali.’ Dia berkata: ‘Kembalilah
kepada Rabb-mu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan
mampu melakukan hal itu. Sesungguhnya aku telah menguji bani Israil dan aku
telah mengetahui bagaimana kenyataan mereka.’”
Kata Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam: “Aku akan kembali kepada Rabb-ku.” Lalu aku memohon: “Ya
Rabb, berilah keringanan kepada ummatku.” Maka aku diberi keringanan lima
shalat. Lalu aku kembali kepada Musa Alaihissallam kemudian aku berkata
padanya: “Allah telah memberiku keringanan (dengan hanya) lima kali.” Musa
mengatakan: “Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu melakukan hal itu, maka
kembalilah kepada Rabb-mu dan minta-lah keringanan.”
Rasulullah Shallallahu
‘alihi wa sallam berkata: “Aku terus bolak-balik antara Rabb-ku dengan Musa
Alaihissallam sehingga Rabb-ku mengatakan:
يَا مُحَمَّدُ،
إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ صَلاَةٍ عَشْرٌ
فَذَلِكَ خَمْسُوْنَ صَلاَةً، وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا
كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا، وَمَنْ هَمَّ
بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ شَيْئًا، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ
سَيِّئَةً وَاحِدَةً.
‘Wahai Muhammad,
sesungguhnya kewajiban shalat itu lima kali dalam sehari semalam, setiap shalat
mendapat pahala sepuluh kali lipat, maka lima kali shalat sama dengan lima
puluh kali shalat. Barangsiapa berniat melakukan satu kebaikan, lalu ia tidak
melaksanakannya, maka dicatat untuknya satu kebaikan, dan jika ia
melaksanakannya, maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa berniat
melakukan satu kejelekan namun ia tidak melaksanakannya, maka kejelekan
tersebut tidak dicatat sama sekali, dan jika ia melakukannya maka hanya dicatat
sebagai satu kejelekan.’”
Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata: “Kemudian aku turun hingga bertemu Musa
Alaihissallam, lalu aku beritahukan kepadanya, maka ia mengatakan: ‘Kembalilah
kepada Rabb-mu dan mintalah keringanan lagi.’” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam berkata: “Lalu aku menjawab: ‘Aku telah berulang kali kembali kepada
Rabb-ku hingga aku merasa malu kepada-Nya.’”[3]
Imam Ibnul Qayyim
rahimahullah berkata, “Hadits-hadits tentang mi’raj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam ke langit adalah mutawatir.” [4]
[Disalin dari kitab
Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas,
Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan
Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Dalil yang menunjukkan bahwa Nabi j Isra’ dan Mi’raj dengan jasadnya yaitu
surat al-Israa’ ayat 1.
[2]. Syarhus Sunnah lil Imaam al-Barbahari (no. 72) tahqiq Khalid bin Qasim
ar-Rad-dadi, Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 223, 226) takhrij Syaikh
al-Albani, Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (IV/328).
[3]. HR. Muslim no. 162 (259), dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu,
hadits ini shahih.
[4]. Lihat Ijmaa’ul Juyusy al-Islaamiyyah ‘alaa Ghazwil Mu’aththilah wal
Jahmiyyah (hal. 55) oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Keterangan lengkap
tentang riwayat Isra’ dan Mi’raj Nabi j dapat dibaca dalam kitab al-Israa’ wal
Mi’raaj wa Dzikru Ahaadiitsihimaa wa Takhriijihaa wa Bayaanu Shahiihaha min
Saqiimiha oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani v, cet. V/ Maktabah
al-Islamiyyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar