Rabu, 06 April 2016

JIKA KEIKHLASAN SEORANG GURU DIUJI

JIKA KEIKHLASAN SEORANG GURU DIUJI

   Kata “ikhlas” mudah diucapkan, namun sulit untuk diamalkan dan dijalankan. Sebab, selalu dicampuri oleh faktor niat lain yang bisa menimbulkan riya, seperti mengharapkan popularitas dan mudah naik jabatan. Rasa ikhlas berada dalam hati seseorang yang tidak bisa diteliti dan dilihat dengan mudah. Ikhlas didefinisikan sebagai perbuatan yang dilakukan semata-mata mencari keridhaan Alloh dan memurnikan perbuatan dari segala bentuk kesenangan duniawi.
 
   Apabila seorang guru dalam menjalankan tugasnya dilakukan dengan penuh keikhlasan, maka guru tersebut merupakan guru yang sangat luar biasa. Mengapa? karena melihat dari definisi ikhlas di atas, tentunya seorang guru dalam menjalankan tugasnya yaitu mendidik dan mengajar hanya karena Alloh dan kesenangan duniawi (gaji yang diperoleh) tidak menjadi prioritas utama. 

  Tantangan besar bagi seorang guru untuk berperilaku ikhlas adalah ketika diuji oleh  dapatnya gaji yang tidak mencukupi, bahkan tidak sesuai dengan yang seharusnya didapatkan. Misalnya kita hanya dibayar setengahnya karna peraturan yang mengikat sehingga yang mungkin lupa melaksanakannya atau menyepelekan hal tersebut. sehingga kebijakan Lembaga Pendidikan terasa merugikan untuk kita. Hal ini kerap menimbulkan reaksi gejolak dalam hati kita. Apakah kebijakan ini benar-benar bijak atau hanya terjadi untuk kita bahkan kita merasa tersudutkan, seolah-olah KEWAJIBAN yang dilaksanakan tidak terganti dengan HAK yang harus didapatkan. Padahal kita merasa sudah mengajar dengan semaksimal mungkin. Perasaan inilah yang akan menguji keikhlasan kita, yang akibatnya kita merasa disepelekan dan akan menyepelekan untuk mengajar. Sehingga tidak hanya kita sebagai pengajar yang akan mengalami kerugian, tetapi anak didik kita pun akan terkena imbasnya. Karna keikhlasan dalam mengajar akan terganggu dengan merasa bahwa HAK nya tidak didaptkan secara utuh. Sehingga mengajarpun menjadi asal bahkan cenderung untuk mengejar HAK dan KEWAJIBAN akan disepelekan.

  Penulis sebagai guru juga menyadari, jika sampai saat ini masih belum bisa menjadi guru yang ikhlas sepenuhnya, karena masih dibarengi dengan niat untuk mencari materi dalam rangka mencari kebutuhan hidup. Maka dari itu penulis berharap adanya kepedulian dari negara, masyarakat maupun lembaga pendidikan terkait, terhadap profesi guru. Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi jalan untuk menjadi guru yang ikhlas, sehingga semua guru bisa menciptakan generasi berkualitas melalui keikhlasan yang nyata. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ISRA' MI'RAJ ROSULULLOH SAW

Perisitiwa Isra Miraj  Ahlus Sunnah mengimani bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah di-isra’-kan oleh Allah dari Makka...